Quran Mutlak Tafsir Relatif

Tidak ada Quran yang salah, karena Quran adalah mutlak benar, dan kebenarannya adalah dalam penjagaan Allah yang Maha Berilmu.
Tidak ada tafsir yang sepenuhnya benar, karena tafsir adalah pendekatan terhadap kebenaran itu, dan kebenaran tafsir berbanding lurus dengan luas dan dalamnya ilmu penafsir, semakin luas dan dalam ilmu penafsir maka kemungkinan akan kesalahannya akan semakin kecil, namun ilmu penafsir tak akan seluas dan sedalam ilmu Allah, sehingga tafsir tak mutlak benar.
Adapun saya sebagai seorang yang memiliki kedangkalan dan kesempitan ilmu, maka tidak lebih baik jika menafsir Quran sekehendak diri, akan lebih baik jika saya bertaqlid kepada penafsir-penafsir dengan keluasan ilmu mereka.
Begitu pula, tak semestinya setiap orang langsung merujukkan aktivitas dan keputusannya kepada Nabi Muhammad tanpa memiliki kemampuan menafsir bahasa Muhammad, maka tidak sepantasnya kami yang awam disalahkan jika bertaqlid pada aulia, alim, syaikh, kiai, daripada kami menafsir sekehendak diri dan merasa tafsir kami yang lebih mendekati kebenaran yang dibawa Muhammad.
waAllahu a'lam.
Share:

Interpretasi | Erorrism

Dari data geofisika, kemudian di interpretasikan bagaimana struktur geologi bawah permukaan suatu daerah. Tapi bukan berarti interpretasi seorang Ahli geofisika maupun Ahli geologi memiliki kesamaan mutlak dengan kondisi bawah permukaan sesungguhnya. Kebanyakan Ahli geofisika maupun Ahli geologi setuju dengan hal tersebut, sehingga mereka tidak menyalahkan atau meng'goblok'kan interpreter sebelum mereka maupun interpreter yang berbeda pendapat dengannya.
Quran dan Hadist pun tidak lepas dari interpretasi (tafsir) dari orang yang mempelajarinya. Namun semestinya tafsir terhadap Quran dan Hadist tidak kemudian menjadi kebenaran mutlak yang kebenaran itu dijunjung melebihi kebenaran sejati Quran. Masalahnya tidak sedikit yang meyakini kebenaran tafsir melebihi kebenaran Quran, sehingga orang lain yang memiliki tafsir yang berbeda kemudian dianggap sesat. Kalau kata Markesot, mereka seperti menghalangi kebenaran sejati menuju seseorang dengan kebenaran relatif dari tafsir mereka, atau lebih ekstrimnya, mereka seperti lebih tinggi dengan tafsir yang dibuatnya dibanding Dia dengan Quran yang dibuatnya, yang kemudian mereka tafsirkan.
Share:

Interpretasi Tafsir Bersyarat

Salah satu syarat bagi seorang geofisikawan melakukan interpretasi terhadap data yang dimilikinya adalah pengetahuan atas informasi geologi daerah tersebut serta pengetahuan akan penelitian geofisikawan terdahulu pada daerah tersebut.
Bagaimana kita bisa percaya pada hasil interpretasi geofisikawan yang tidak ber"referensi" dengan jelas?
Bagaimana kita bisa percaya pada hasil interpretasi geofisikawan yang tidak faham geologi?
Bagaimana kita bisa percaya pada hasil interpretasi geofisikawan yang tidak mengetahui penelitian terdahulu?
Bagaimana kita bisa percaya pada tafsir Quran seseorang, padahal ia tidak tahu tafsir thabrani, tafsir ibn katsir, tafsir jalalain, tafsir al ibriz, tafsir al imrit, tafsir al iklil, dan sebagainya, selaku penelitian atau penafsiran terdahulu?
Bagaimana kita bisa percaya pada tafsir Quran seseorang, Padahal ia tidak tahu ilmu tafsir?
Lebih parah lagi, bagaimana bisa, jika ia tidak paham bahasa arab?
Share:

Taqdir dan Kesalahan

Adakah salah jika Adam memakan buah Khuldi sehingga Ia dikeluarkan dari syurga ke bumi?
Bukankah kamu tahu jika Adam memang di takdirkan untuk menjadi khalifah di bumi?
Sehingga Ia dengan memakan dan tidak memakan Khuldi, ia akan tetap ke bumi?
Adakah Ia salah hingga mendapat hukuman meninggalkan ni'mat syurga kepada kerusakan bumi?
Bukankah itu memang Taqdir Adam?
Tidak bersalahkah Adam?
Atau kau hendak menyalahkan Allah?

Adakah salah Iblis ketika membangkang Allah ketika disuruh bersujud?
Adakah salah Iblis sehingga ia di rajam oleh Allah karena kesombongannya?
Bukankah Ia dengan Sombong dan Tidak Sombong akan tetap mendapat Rajam karena Taqdir Iblis?
Sebagai bentuk bahasa lain, jika kita membicarakan taqdir dengan kesalahan ini.
Jika Iblis ditaqdirkan untuk menjadi pembangkang,
Lalu ia membangkang atas perintah Allah,
bukankah dia membangkang adalah bentuk ketaatan Iblis kepada Allah karena menjalani Taqdirnya?

Jika Adam ditaqdirkan untuk menjadi khalifah di bumi.
Lalu ia diturunkan Allah karena memakan buah terlarang.
bukankah dia memakan buah terlarang dan turun ke bumi adalah bentuk ketaatan karena menjalani taqdirnya?

Tidak.
TIDAK.
Tugas kita adalah ikhtiar untuk menjadi semakin baik.
Bukan ketika kita menjadi buruk kemudian kita menyerah dan mengatakan "Ini taqdirku"
Bukan ketika kita menjadi pecandu narkoba, lalu kau katakan, "Ini takdirku"
Tapi ketika kau berusaha dan gagal,
maka tetap berusahalah dan berdoalah untuk mengejar taqdirmu dan memperbaiki taqdirmu.
Share:

Islam | Jawa | Nusantara

Menurut Pak Agus Purwanto, penulis buku "Ayat-Ayat Semesta" dan "Nalar Ayat-Ayat Semesta"; Hubungan Islam dan sains itu terbagi menjadi tiga yaitu;
-Islamisasi Sains
-Saintifikasi Islam dan
- Sains Islam; itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan Islam dengan Jawa. Adapun Prosesnya ada dua menurut kiai yang terkenal dengan "Qulhu wae lek", yaitu ; Menjawakan Islam lalu Mengislamkan Jawa.
Belum lagi ada seorang tokoh EAN, atau Cak Nun mengatakan islam itu memang cocok dengan jawa, jadi wajar kalau ada Islam jawa.

Menurut saya pribadi, Hubungan Islam dengan Jawa ada 4;
- Jawaisasi Islam (Menjawakan Islam), posisi ini agaknya akan rancu ketika dalam Jawa tidak ada suatu padanan untuk suatu term dalam Islam sehingga harus dicocokkan dengan kondisi Islam dan Jawa. Namun beruntungnya kosa-kata dalam Jawa cukup luas. dan Pada Faktanya, Masyarakat Jawa tidak menabrakkan seperti teori di atas. Dimana masyarakat Jawa lebih menggunakan padanan Islam untuk term yang tidak ada dalam padanan Jawa Seperti Adil, Adab, Musyawarah dan sebagainya.

Belum selesai nulisnya. :)
- Islamisasi jawa.

- Jawa Islam.

- Islam Jawa.
Share:

Hening | Kenangan 2004

Ini adalah puisi yang saya baca di tahun 2004 lalu,,,
Sehingga saya lupa dengan pengarangnya,,
Mungkin ada yang masih ingat?


"Langkah-langkah itu hadir….
Tersenyum membuka pintu….
Menyapa sedikit kata….
Dan akhirnya terdampar di kursi rotan….
Hening….
Sepi….
Tanpa suara….
Naluri bergejolak menyimpan sesuatu….
Ku tatap jatuhnya dahan….
Ku coba, ku cari dan ku pungut cerita….
Namun sering kali hilang di telan ilusi…."

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/06/20/hening-570745.html
Share: