Soal Ujian Tengah Semester Geofisika (Islam-10)


UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL 2012-2013
MATA KULIAH/KELAS     : AGAMA ISLAM-10
JURUSAN                            : FISIKA
DOSEN PENGAMPU        : DRS. SUNARTA, M.S.
WAKTU/ SIFAT                  :120 MENIT/ TERBUKA, BOLEH BAWA AL, QURAN
HARI TANGAL                    : JUMAT, 02-11-12, 07.30

  1. Sebagai seorang muslim, salah satu kewajibannya adalah menjalankan shalat lima waktu, bagaimana apabila ada seorang islam yang belum/tidak shalat, tetapi dia rajin dan tekun mengamalkan puasa ramadhan, infak, sodaqoh, bahkan zakat maal begitu besar, dapat dikatakan hanya salat saja yang belum diamalkan dengan tertib, bagaimana keislaman mereka it, beri penjelasan menurut analisa saudara ? Tunjukkan pula dasar argumentasi / dalil yang memperkuat.


Untuk soal lengkap silahkan klik disini
Share:

Geofisika Piknik (GeoPink: Situs Gunung Api Purba Nglanggeran )


Alamat lengkapnya di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Sebelum kami berangka t menuju target (Situs Gunung Api Purba), undangan disebar dengan isi “kumpul di hubi dulu jam stg 7” begitu SMS mbak jarkom. Kami berkumpul di hubi dan menunggu temen-temen yang mau ikut ke target. Sampe jam setengah delapan baru terkumpul sejumlah anak manusia 14 anak, sebut aja si A sampe si T. Kami berangkat kesana bareng-bareng, tentu saja aku naik motor kesayaanganku Honda Astrea Grand.
Aku boncengan sama mamat. Ya dia yang posturnya paling kecil, biar motorku kalo naik kuat. Perjalanan naik dan turun gunung itu anggep aja udah kaya pas di OPMG (Orientasi Pengenalan Medan Geofisika). Sayangnya soal OPMG gak boleh di ceritain banyak-banyak. Jadi untuk soal naik dan turun gunung ini pun gak akan diceritain banyak.
Cukup yang diceritain pas kita udah sampai atas, foto-foto, terus kepanasan, turun cari tempat teduh, ngumpulin ranting-ranting kering, keluarin bensin, siram, bakar, baranya udah jadi, masukin ubi cilembu yang dibeli Tangguh, sekalian ubi yang dibawa Pungki, bakar dan bakar, mateng, rebutan makan. Nah disinilah, sifat asli kami muncul. Sifat rakus. Udah tau ubi masih panas, langsung aja dimasukin kemulut. Ya selamat deh buat yang mulutnya kena sengatan panas si cilembu. Asal berebut aja makan ubinya, tapi karena seleraku gak kaya temen-temen yang laen, aku dapet jatah banyak bagian ubinya.
Udah itu aja pas di gunungnya. Yang mau sedikit tak singgung juga pas kita keujanan, mampir masjid, berteduh, nungguin ujan reda. Sambil nungguin ujan, aku baca buku-buku yang ada di situ. Pertama aku dapetnya ya kaya buku-buku di masjid umumnya, ada Quran, Iqra’, pas aku gledah lagi dapet buku “Bangkit” tentang NU terbitan tahun 1982. Isinya juga cukup menarik sih. Terus gledah lagi dapet bukku muhammadiyah terbitan 2004, aku lupa isinya. Gledah lagi dapet buku “Islam Rahmatan Lil’Alamiin”, nama pergerakan yang menerbitkan buku itu adalah Nahdlatul Muhammadiyyin, yang digagas cak nun, bukku ini terbitan tahun 2010.
Aku kira cuma ada buku-buku itu aja, pas masuk,  di mimbar aku lihat ada dua buku tebel, buku itu karangan Al Kandhalawi – denger-denger itu adalah buku yang sering jadi rujukan saudara-saudara jamaah tabligh. Ada satu buku lagi yang belum tak buka, kayaknya sih kitab kuning. Ujan hampir reda, shalat ashar terus pulang.
Subhanallah di masjid yang awalnya tak kira gak ada apa-apanya ternyata ada apa-apanya. Maaf buat takmir, saya udah lancang menggeledah.
Share:

Untung Berlimpah, Modal Sedikit Kebaikan


Sempat terlintas dalam benak diri bahwa orang yang berbuat kebaikan, lalu Allah segera membalas kebaikan orang tersebut namun dengan balasan yang super berlipat adalah cara Allah membalas amal orang tersebut di awal. Namun di akhir, orang tersebut akan tidak mendapatkan nikmat yang telah ia dapat selama ini. Atau di akhir hayatnya ia akan berbuat kesyirikan atau kemungkaran, sehingga tiada pengampunan baginya karena kebaikannya sudah di balas di awal. Dan Adzab Allah yang dia dapat.
Cermati Hadist berikut !
Dari Anas r.a., berkata:”Rasulullah s.a.w. bersabda :” Jikalau Allah menghendaki  kebaikan pada seseorang hambaNya, maka ia mempercepatkan suatu siksaan -penderitaan- sewaktu di dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seseorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan sajalah dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan -siksaan- hari kiamat.”
Dan Nabi s.a.w. bersabda - juga riwayat Anas r.a.-: ”Sesungguhnya besarnya balasan -pahala- itu menilik besarnya bala’ yang menimpa dan sesungguhnya  Allah itu apabila mencintai suatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela -menerima- bala’ tadi, iaakan memperoleh keridhaan Allah dan barangsiapa yang uring-uringan maka ia memperoleh kemurkaan Allah pula.”
Diriwayatkan oleh Imam Tarmidzi dan ia mengatakan bahwa hadist ini hasan.
Dari hadist tersebut seolah pemikiran di atas adalah seolah bertambah keyakinan bahwa lintasan benak fikir akan lepas dari rahmat Allah di akhir hayat seakan benar. Sampai pada suatu ketika orang tersebut bertemu dengan seorang ustadz yang membahas kitab Riyadhus Shalihin. Beliau menjelaskan tentang hadist ini. Hingga orang tersebut bertanya dan di jelaskan bahwa tidaklah tentu yang difikirkan itu benar, tapi bisa jadi Allah membalas itu untuk menunjukkan kuasanya dan menguatkan iman yang lemah. Tapi masih ada setitik  tanya, siapa yang dimaksud imannya lemah? Orang itu atau orang sekitarnya?
Wallahu a’lam. 
Share:

Islam Mana yang Benar?

Pertanyaan itu sebenarnya muncul dari mulut seorang calon mualaf. Ya, dia masih calon mualaf yag ingin masuk Islam. Sebelumnya dia sempat berpindah-pindah agama. Namun sayang, dia hidup di Indonesia. Dimana islam terkotak-kotkkan dengan tidak tentu.
Pertanyaan ini pun menarik bagi sebuah tim diskusi yang saya ikuti untuk di bahas. Ketika saudara kami ditanya dengan pertanyaan ini ia hanya sekedar menggelengkan kepala. Ada pula yang menjawab bahwa islam yang sesuai ajaran Quran dan Sunah yaitu Ahlus Sunah Wal Jama’ah. Lalu  di Indonesia yang terjadi, NU ngaku Ahlus Sunah, Muhammadiyah ngaku Ahlus Sunah, Tarbiyah tak kalah dan apalagi MTA. (maaf bukan bermaksud menjelek-jelekkan ormas tersebut.) Begitupun kelompok-kelompok lain yang juga mengaku demikian.
Lalu ada yang membuat permisalan Sebutsaja dia Si Z. Pada awalnya ia hanya bertanya kepada kelompok diskusi itu“Pernahkah Kalian Shalat?” dan tentulah seorang muslim yang juga menjadi aktifis dakwah akan menjawabnya “ya” dengan mantab. “Karena Shalat adalah bagian dari Islam maka jika kita ambil analogi, Islam yang benar pun seperti shalat yang benar, masalahnya antum sudah tahu belum sjhalat yang benar itu bagaimana?” Lanjut Si Z. “tentulah Shalat yang benar adalah Shalat yang lengkap Syarat dan Rukunnya”
                Begitu pula dengan Islam, Islam yang benar adalah Islam yang Lengkap Syarat dan Rukunnya.Dan tentu para budiman pembaca Blog ini sudah tahu akan Syarat Sholat dan Rukunnya. Kalopun belum tahu silakan Googling atau komen disini J Lalu saya pun yakin anda telah tahu rukun Islam. Yang jadi pertanyaan adalah apa syaratnya. Insya Allah pembahasan lebih rinci tentang syaratnya akan saya buat dalam buku saya.
Share:

'Aidil Adha 1433 Ini Berbeda

 Takbir berkumandang, menggema dan mendayu, memecah sunyinya pagi. Terdengar sayup-sayup, lantunan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha illa Allahu, Huwa Allahu Akbar. Allahu Akbar Walillah hilhamd”. Kumandang ini mengundang Segenap Warga mBarek da sekitarnya untuk berkumpul di Wisma Bukit Barisan.
Bukan hanya warga asli jogja yang turut meramaikan idul adha kali ini. Para pelajar asal negeri jiran ini pun tak kalah banyak. Bahkan jumlah mereka ada 25% dari yang hadir saat itu. Namun ada beberapa hal yang membuat saya merasa heran. Ketika shalat telah selesai dan telah masuk waktu khutbah, tampaklah seorang malaisya yang baru datang. Tampaknya orang ini tahu bahwa idul adha sunah belaka. Dan mendengarkan khutbah itu juga penting. Maka ia segera duduk dan diam sembari mendengar khutbah. Sedangkan Orang Indonesia, ketika masuk waktu shalat idain mereka berduyun-duyun. Seolah idain itu wajib, dan ketika berkhutbah tak sedikit dari kita yang senggol kanan- senggol kiri.
Selain itu juga ketika khutbah selesai. Mereka tak lekas pulang. Mereka membantu panitia melipat Koran yang di gunakan sebagi alas. Dan mereka memberesi Koran-koran itu dengan rapi. Aku yang jadi panitia saat itu merasa malu karna hanya memberesi Koran dengan kaki. Aku pun turut menggunakan tanganku untuk merapikan seperti yang orang-orang malaisya itu lakukan. Sedangkan aku melihat orang-orang asli Indonesia malah langsung pulang tanpa terdahulu merpikan Koran yang mereka bawa.


Dan yang menjadi perhatian saya adalah selesai semua aitu mereka tiada langsung pulang juga. Mereka berkumpul layaknya setelah lebaran, saling berjabat tangan dan suasana keakraban pun segera muncul. Perempuan dan lelaki pun juga ada batas yang muncul secara alamiah. Aku hanya berfikir, mereka berakrab seperti ini adalah karena hal ini belum mereka lakukan lebaran kemaren.
Share:

Senior >< Tuhan

Shadaqa Allahu Al-‘Adhim. Kalo biasanya kalimat ini biasa di tulis di akhir, di sini saya tulis awal. Saya yakin kalimat ini sering di baca banyak orang. Bahkan para aktifis-aktifis di sekolah-sekolah, kampus-kampus dan institusi-institusi lain pun juga sering baca. Tapi tak sedikit yang tahu (kayaknya sih belum paham) arti kalimat ini, namun melanggar isi dari kalimat ini.
Sebelum saya ke inti masalah, tentu anda tahu nabi kami, Muhammad. Setahu saya, Nabi Muhammad adalah manusia paling sempurna dari seluruh ciptaan Rabb. Sehingga Beliau Maksum, atau terhindar dari kesalahan, tapi bukan berarti maksum terus tidak pernah melakukan salah. Pernah juga nabi berbuat salah, namun ketika beliau berbuat salah beliau langsung di tegur oleh Allah. Itulah nabi Muhammad yang terjaga dari dosa.
Pasal 1 : Senior Selalu Benar Pasal 2 : Apabila Senior Berbuat Salah, Maka Kembali ke Pasal 1. Kata kunci yang seolah-olah, mereka adalah yang sempurna. Padahal mereka tahu ada Yang Sempurna. Apakah yang sempurna ini ingin menandingi Yang Sempurna, seperti Fir’aun di Jaman Musa? Saya yakin tidak begitu. Mereka sekedar pengin menunjukkan senioritas, namun salah jalan. -Ssssstt..Gak beda kaya orang yang pengin ngeksis dengan berbuat kesalahan- 
In my view, tradisi Fir’aun ini seharusnya di tinggalin deh. Ini bukan mendidik Junior, tapi malah membuat junior ilfil ma Senior. Dan seharusnya Junior akrab dan dekat ma kakak tingkatnya dengan gembira, yang jadi malah Junior akrab karena terpaksa. Dan akrabnya pun dengan rasa takut –ini yang biasa terjadi pada anak SMA- 
Kalo pengin di hargai di hormati dan di ta’ati adik-adikmu, tunjukka dengan teladan bukan dengan nafsu. Tunjukkan dengan saling mengingatkan jika salah, yang (merasa) sempurna, yang (merasa) selalu benar itu bukan Tuhan. Adik-adik gak usah segan kalo ada senior yang salah tegur saja. Kalo dia marah ada dua hal yang harus kamu tahu. Dia marah beneran atau acting. Kalo gak tau bedanya, tanya aja, “kakak marah beneran apa acting?” dan kalo dijawab marah beneran, maka ajak dia wudhu, kalo acting kalia gak usah ikut acting, diam da lihat saja. Karena orang acting itu buat di tonton.
Share: